Bayiku yang mungil…
Kala itu, Sang Surya sedang berteriak memecahkan bumi dari kedinginan pagi hari. Sesosok perempuan desa, terlihat sedang berjalan tergopoh-gopoh menuju sebuah gubuk tua. Perempuan itu, berjalan dengan semakin membungkuk. Kulit arinya terlihat hitam lekam, menandakan sering terbakar oleh teriknya matahari. Pipinya memerah, perutnya amat besar dan bulat, seperti bulan purnama. Dengan tangan kasarnya, dia mengelus-elus perut nya yang seakan terasa mau meledak, dan kian lama pun kian terasa sangat sakit. Diam-diam seorang lelaki telah membuntuti dari belakang. Akan tetapi, seorang perempuan tadi, tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Yang dia pedulikan hanyalah perutnya yang kian lama kian berat. Sesampai di depan rumah, perempuan tersebut langsung meloncat lari ke arah pintu masuk. Meskipun dengan tersandung-sandung tangga, tetapi dia tetap semakin keras berjuang untuk segera masuk . Sesampai di kamar tamu, tidak dapat menahan rasa sakit. dan perempuan itupun terjatuh di lantai. Dengan menggunakan tangannya yang bergetar, dia berusaha menggapai-gapai sebuah kaki meja untuk menariknya berdiri kembali. Akan tetapi, dia sudah tak kuasa menahan rasa sakit yg amat mendalam di dalam perutnya. Akhirnya perempuan tersebut terkapar lemas di lantai yang dingin bagaikan besi beku.
Tiba-tiba, seorang laki-laki td meloncat dari pintu masuk… gluddukkk…! Begitu melihat sosok perempuan yang dibuntutinya sudah terkapar di atas lantai, si laki-laki berteriak. Aduhhh… ngopo mbok ne? tanyanya. Si perempuan td hanya bisa menjawab dengan suara rintihan …aduhhhh … tu… lung…tulung aku di unggahke nang amben ! Segera si lelaki td mengangkatnya untuk digotong dan ditidurkan di atas amben kayu besar yang berada di pojokan. Sambil merintih kesakitan…perempuan tadi berbisik. Pak ne… tulung diundangke Siwo… cepet pak ne…. iki wis arep metu. Dalam beberapa detik… lelaki itu pun terhempas keluar …. hendak memanggil siwo yang dipinta perempuan td. Beberapa menit kemudian, balik lah si lelaki td bersama dengan seorang wanita tua. Tanpa basa-basi dulu, si wanita tua td berteriak… tulung jupukno banyu anget karo lap-e, mar … cepet … cepet yo… ! kemudian datanglah sebaskom air hangat lengkap dengan lapnya. Si orang tua td langsung menyambarnya dan mengompreskannya pada si perempuan yang sakit td… Dengan sambil menekan-nekan di bagian perut yang bengkak td, dia mengatakan… Ayo saiki ngeden… terus… kata orang tua td, kata si wanita tua itu kepada si perempuan. Aduh… aduhhhh… Gusti Allah, tuluuuungi kulo… aduhhhh…. rintih si perempuan td. Ayo sepisan maneh… ngeden sing kuat… ojo leren…. kata wanita tua td sambil mengurut-urut di bagian perut. Dan begitu si perempuan td berteriak Ahhhhh…. tiba tiba terdengarlah suara bayi yang dengan kuat memecahkan kesunyian di siang bolong…. Yah suara bayi menangis … Oekkk….oekkk… oekkk. Wahhh… bayinya laki-laki..! kata wanita tua itu.
Yah sesosok jabang bayi yang baru keluar dari perut sang ibu. Bayi tersebut kemudian di gendong dan di kompres dengan halusnya. Terlihat kulitnya yang begitu putih, lembut dan bersih, dengan sedikit noda bercak di bagian lengan kirinya. Sambil terus menangis… di selimutilah bayi tersebut dengan sebuah handuk yang halus. Yah…. benar… Bayi itu adalah saya. dan seorang perempuan td adalah ibu yang melahirkan saya. Sedang seorang laki-laki tadi tidak lain adalah bapak saya sendiri. rupanya sepulang dari ladang, ibu saya berasa mau melahirkan … dan ternyata memang benar. Keluarlah seorang bayi yang kemudian diberi nama… puji iswiyanto…

Tinggalkan Balasan