Masa kecilku…

•11 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Satu-satunya yang ku ingat ketika aku masih umur 1 tahun adalah… aku sering digendong ibuku(simbokku) dan disuapin pisang yang digerus pake sendok. Selain itu dah gak inget lg… Tetapi ketika usiaku 3 tahun, aku mulai ingat ada banyak kenangan di sana.

Aku di besarkan dengan bapak dan ibuku sendiri yang saat itu menjadi petani tembakau di suatu desa kecil di dekat jogja. Saat itu, Petani tembakau memang lagi jaya. Tentu saja orang tuaku bs jadi petani tembakau karena belajar dari kakek dan nenek yang juga seorang pedagang tembakau. Setiap hari, baik di halaman maupun di jalanan selalu dipenuhi dengan tembakau-tembakau yg diletakkan saling berderetan. Bukan karena kami gak punya gudang, tetapi lantaran tembakaunya selalu di jemur disana. Suatu malam aku dan saudara2ku main kejar kejaran. Karena suasana malem begitu gelap, dan hanya diterangi oleh lampu petromak, kami gak tahu dimana posisi lawan kami…kami berusaha berlari secepat mungkin agar tidak tertangkap lawan. Tiba-tiba saja, ada sosok bayangan yg bergerak cepat mendatangiku dari arah depan… Bayangan itu begitu cepatnya datang, sehingga aku tidak sempat mengerem… tau-tau…”Beeenngg!” kami terlempar berlawanan arah. Ternyata aku bertabrakan dengan saudaraku Rudi… yang sama-sama sedang berlari kencang. Akhirnya Jidat dan kepala kami pun menjadi benjol dan berwarna hitam lebam.

Ku jg inget, bahwa aku sering menirukan gaya ayahku … terutama saat dia merokok. Tetapi aku hanya menggunakan kertas rokok yang digulung-gulung sampe mengecil. Kemudian ku sulut bagian ujung gulungan itu dengan menggunakan korek api dan ku-isap2 di ujung satunya sampai keluar asap bagaikan cerobong kereta api… Suatu hari, gaya kebanggaanku ini di ketahui oleh pak dhe ku. Seketika itu jg, aku langsung di bentak sama pak dhe ,”Heh… cah cilik kok udud… “spontan aku nangis dipangkuan bapakku… he..he..

Saat umur 4 th, aku amat suka sesuatu yang asin-asin. Begitu sukanya sehingga setiap hari klo mau berangkat main, aku selalu menyangking segenggam garam untuk diisep-isepin sambil berjalan-jalan. Aneh bukan …

Aku jg pernah sakit parah. Badan ku panas sekali, sampe tubuhku bergetar dan aku tidak bs merasakan apa2 lg. Suatu malam, bapakku mendekatiku dan duduk di samping papanku. Di tangannya tergenggam sebuah buku Alqur’an. Bapak mengusap-usap dan mengelus-elus jidat, perut hingga kakiku. Tetapi aku tidak peduli karena aku tidak bs merasakannya. Dan anehnya, ketika bapak mulai melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an diatas pangkuannya, kurasakan “damai” yang luar biasa. Yah… diriku terasa melayang seakan berpindah ke suatu tempat yang begitu luas… begitu sejuk… dan penuh dengan rasa kesenangan. Akupun mulai dapat merasakan suhu tubuhku yang berangsur-angsur turun… sampai akhirnya badanku sudah tidak merasa sakit lagi, dan seketika itu jg aku langsung sembuh total. Yah… berkat ayat-ayat itu…Puji Tuhan… Allahu Akbar. Tuhan memang Maha Mulia…

Ku juga inget, … dulu, ketika aku disuruh bersih-bersih rumah oleh ibuku. Karena takut kena marah maka akupun menyanggupinya, akhirnya aku pun mulai bersih-bersih dengan kemoceng wasiatku. Kubersihkan debu demi debu yang sudah menempel dengan akrab di lemariku…dimejaku…dan dibifetku. Tetapi, beberapa saat kemudian, terdengar suara teriakan, “Yan… pentil spuyer e nang ngendi?” …hah… aku dapat mengenali betul suara itu. Yah… ini adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan bapakku ketika marah besar. Rupanya kemarin bapak menyimpan benda keramatnya di atas lemari pakaian yang tadi sudah kubersihkan. Mendengar suara itu… aku langsung mencari-cari benda itu di setiap ujung lantai… di bawah lemari… di bawah meja… dibawah bifet… Tetapi tetap saja aku tidak dapat menemukannya. Bapak mulai marah besar. Sampe2 aku mau dipukulnya. Dan karena aku tetap saja membantah atas tuduhannya dengan berteriak, diambilkannya aku sebuah Gobang (pisau untuk merajang tembakau) dan hampir saja kepalaku dibelahnya. Untung saja waktu itu ada ibuku yg bisa meredakan emosi bapakku. Aku gak tau seberapa berharganya pentil itu, sehingga dapat membuat bapakku mau menukarnya dengan sebuah nyawa.

Ku juga inget waktu saling berebut mobil2-an dengan mas joko… waktu itu bapakku baru pulang dari sawah. Aku sedang bermain mobil-mobilan di serambi rumahku. Saat itu juga, kulihat mas joko berlari kearahku dan tiba-tiba merebut mainanku. Spontan Aku pun menangis dengan meraung-raung sambil duduk terkesot-kesot. Karena capek dan gak tahan mendengar aku yang amat ribut, tiba2 bapak dengan murka berlari ke arahku dan membuat tendangan pinalti tepat di perutku “Duesss… Goolllll…. ” aku terlempar masuk ke dalam rumah dan tersangkut di bawah kolong amben. Gak terungkap rasa sakit yang kuderita disekujur tubuhku. Aku gak bisa bicara, bahkan bergerak pun aku tidak bisa. Pandanganku bgt gelap gulita… dan menit demi menit pun berlalu. Karena melihatku tidak berdaya, bapak langsung menarik tanganku… sadar-sadar, aku sudah berada di pangkuan bapak. Di elus-elusnya perutku dengan pandangan penuh penyesalan. Yah meskipun dengan rasa sakit yang tak terbandingkan, ku coba menerima permintaan maaf bapakku yang sedang menangis penuh penyesalan.

Beberapa minggu kemudian bapak sakit parah. Badannya sering kejang-kejang dan sering gak sadarkan diri. Aku jg sangat kasihan melihatnya yg sangat tak berdaya di tempat tidur. Hampir 3 bulan lamanya, bapak terkapar di tempat tidurnya. Ketika mengakhiri bulan ketiga, aku pernah bilang ke bapak, “pak… makanya bapak jangan suka memarahiku. Klo bapak marah lg, pasti sakit bapak akan kambuh lagi.” dan betul, ketika bapakku marah, penyakitnya selalu kumat. Mulai saat itulah bapakku gak pernah marah2 sama aku lagi. Justru malah sebaliknya. Bapakku jd sangat baik.

Dulu, ketika aku mengakhiri umur 4 tahun, temen-temenku mempunyai sebuah mainan baru. Yah… mainan baru tersebut terbuat dari semacam jeli yang ketika ditiup dengan sebuah sedotan akan menghasilkan sebuah bola balon . Balon itu dapat mereka mainkan selayaknya bola volly. Mereka pukul balon-balon itu sehingga berterbangan di udara… kemudian setelah turun… mereka kejar dan mereka pukul lagi sampai akhirnya balon itu pecah… Begitulah cara memainkannya. Ingin sekali ku memiliki mainan itu. Dengan segala keberanianku, ku rayu ibuku agar segera membelikan mainan itu. Tetapi, seperti biasa, yang terjadi adalah selalu saja aku malah kena marah. Buang buang uang katanya. Ibuku kemudian memberikan satu syarat kepadaku. Katanya,”kalau kamu ingin memiliki benda itu, kamu harus membantuku mencabuti rumput di sawah terlebih dahulu.” Akupun terpaksa menyanggupinya. Siang itu, terik matahari begitu panas membakar setiap sel dalam tubuhku. Sampe-sampe kepalaku terasa puyeng dibuatnya. Tetapi aku tetap berusaha bertahan… untuk dapat menyelesaikan pekerjaan yg menyebalkan itu. Dan akhirnya, beduk siang pun berbunyi, pertanda jam 12 siang. Ibukupun mengajakku pulang. Di perjalanan dia hanya membisu, meskipun aku dengan cerewet menagih janjinya. Makan dulu!,” katanya. Begitu makan selesai, dengan girang aku meloncat dari amben untuk menagih janji ibuku. Eh.. ternyata ibuku malah marah lagi. Aku pun mengambek. Tetapi tetap saja aku dimarahin habis-habisan. Selesaikan pekerjaanmu dulu!” perintahnya. Akhirnya, akupun dengan sangat jengkel mengikuti ibuku lagi ke sawah. Dan sayangnya, begitu sore datang, pekerjaan kamipun tetap belum selesai. Karena aku udah gak tahan karena sangat capek, akhirnya aku pun berlari pulang dengan rasa dongkol dan teramat marah. Aku tidak mau bicara… aku tidak mau makan… aku mau mati saja … sehingga tidak bertemu ibuku yang selalu ingkar janji… ,” kataku. Ingin rasanya ku akhiri hidupku saat itu… Sampai akhirnya ibu menghampiriku dengan memberikan sejumlah uang kepadaku. Dan akupun meloncat setinggi langit karena begitu kegirangan. Tanpa peduli lagi, aku langsung berlari ke warung untuk membeli mainan itu. Untung saja stok mainan itu masih ada. meskipun tinggal 3 biji. Dan akupun mulai meniup dan memainkannya… tetapi hanya sendirian saja… yah, teman-temanku sudah terlanjur pulang karena hari sudah mulai gelap. Kunikmati betul suasana itu. kurasakan detik demi detiknya… ku tiup balon itu, kelempar kesana kemari, hingga aku tidak bs melihat apa-apa lagi, karena malam sudah begitu larut. Kemudian aku duduk termenung sambil memegang balon terakhirku… ku usap-usap… ku cium-cium sampai akhirnya aku terbius tidur di tengah keheningan malam…

Ketika, umur 5 tahun, aku diajak bapakku ke sebuah sekolah kecil di desa kamal. yah benar… aku akan didaftarkan untuk sekolah. Waktu itu blm ada TK, sehingga aku langsung dimasukan ke SD kelas 1. Padahal sebenarnya umurku belum cukup waktu itu. Rata-rata temenku sudah berumur 7 tahun. Ku inget selalu pake baju setelan panjang warna krem kecoklatan yg mempunyai pengikat seperti sabuk di bagian perut. Aku paling suka memakai baju itu… yah… tentu saja karena itu satu2nya pakaian yang terbaik yg aku miliki. … Ku juga masih inget sama guruku yang mengajar ku pertama kali… Bu Sri namanya. Kulitnya putih bersih, rambutnya mengombak terurai halus, dan nada suaranya pun begitu lembut. Suatu hari kami disuruh menyalin sebuah tulisan di papan tulis… karena aku penasaran pingin nglihat hasil tulisan temenku yang ada di belakangku, tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dan naik di atas kursi untuk menarik buku yang berada di belakangku. Tiba-tiba sebuah tongkat kecil panjang melayang di pantatku. “Prakkkk!” Yah… ternyata Bu sri-ku mukanya memerah, dan menyabet ku dengan sebuah tongkat yg biasa ia gunakan untuk mengajar. Aku telah melanggar tatasusila di kelas dengan berdiri di atas kursi di depan guruku… mulai saat itu aku tidak aneh-aneh lagi.

Ketika kelas 2, aku inget punya temen namanya “Marsido”. Yah… anak paling besar, paling tinggi dan jg paling nakal di kelas kami. Tiap hari selalu ada saja salah satu dari kami yg dikerjainnya. Tetapi, meskipun nakal, kulihat ada sisi baik dari dalam dirinya, yaitu setiap hari dia mau menjualkan kue kemplang dan bakwan buatan ibunya. … Ketika menjelang kelas 3, setiap hari kami merasa kawatir. Karena kami mengetahui, di kelas tiga, ada seorang guru matematika yang galaknya gak ketulungan. Klo dia marah, dia Sering menendang, menjenggung, menyikut bahkan memukul dengan penggaris. Sehingga, rasanya kami tetap ingin tinggal dikelas. Tetapi, tetap saja kami dinaikkan di kelas 3.

Hari pertama di kelas 3… Masing-masing guru yang masuk ke kelas dan mulai memperkenalkan diri terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya.. datanglah guru yg paling populer dan paling ditakuti di tanah air ini. Yah benar… Pak Daud namanya. Begitu dia sampai di ambang pintu kelas kami, … suasana kelas kami berubah drastis jd seperti kuburan. Kami begitu tegang… dan kami jg takut setengah mati… Tetapi, begitu dia mulai berbicara… tiba-tiba, tertawalah kami terbahak-bahak. Yah ternyata pak daud ini sangat humoris… lucu sekali… dan kami baru sadar klo ternyata pak daud ini punya kelebihan lain. Dan dia jg sangat pinter bercerita. Aku masih inget ketika beliau bercerita tentang Adam dan Hawa, Nabi Musa, Raja Fir’aun, Kelahiran Yesus, Yusuf, dan masih banyak lg. Gila pokoknya, gak ada yang lebih menyenangkan dari hidup kami waktu itu selain hanya duduk mendengarkan ceriteranya. Mereka teramat pandai untuk bercerita, sehingga kami pun betul2 terhanyut di dalamnya. Tetapi di lain waktu, pada saat pelajaran matematika dan kami tidak bs menjawab pertanyaannya, atau gak ada yg berani tunjuk jari untuk maju mengerjakan di papan tulis, langsung jurus2 penggaris kayunya pun dikeluarkannya, sehingga kepala kami benjol2 gak karuan. Sampe suatu hari kami punya ide, pada saat pelajaran matematika, penggaris kayunya kami umpetin. Tetapi ternyata beliau masih punya banyak jurus yang lain, seperti jurus sikut maut, yg efek rasa sakitnya lebih abadi di kepala kami.

Ku ingat jg waktu itu aku punya teman namanya wawi. Dia anak terbesar di kelas kami. Bahkan gurunya kala besar. Ketka itu pelajaran IPA, yang diajar oleh pak Yatno. Si wawi ini sedang sakit gigi, tetapi dia tetap nekat untuk masuk di pelajaran ini. Karena si wawi ini ketika di tanya gak bs menjawab, akhirnya pak Yatnopun mengeluarkan jurus dengan tongkatnya untuk menggutik-utik pipi si wawi. Tiba-tiba saja si Wawi ini bangun dari kursinya dan berlari ke arah lemari prakarya kami, dan tiba-tiba… Glodak…glodakk… tar…si Wawi membabi buta melempari pak Yatno dengan asbak bambu buatan kami. Karena takutnya, pak Yatno berlari keluar kelas dan selama seminggu gak pernah masuk di kelas kami. Akhirnya kamipun berhadapan dengan “Pak Daud” yang jg merupakan kepala sekolah kami.

Begitu mau masuk kelas 4, aku berniat mencukur rambutku yg selalu gondrong sampe menutupi hidung. Karena simbokku merasa aku sudah berani pergi ke tukang cukur sendiri, maka ia pun langsung memberi sejumlah uang kepadaku. Aku inget bgt waktu itu aku ditanya sama tukang cukurnya begini, “mau potong bross atau setengah bross?’. Setahuku, yang namanya potong bros ini agak gundul dan yang setengah bross ini pasti lebih gundul lagi. Terus ku jawab dgn tegasnya,”bross saja pak”. Ketika alat cukurnya mulai menempel di kepalaku, tiba2 aku merasakan ada yg tidak beres dengan cara mencukurnya. Begitu selesai bercukur, aku pulang dan langsung lari ke depan cermin, tiba2 kulihat ada tuyul gundul di depanku. Astagaaaaaa, … serasa hari itu adalah hari kiamat bagiku, …. ya ampuuuuunnnn, ternyata kepalaku gundul plintis. Ternyata persepsiku tentang bross dan setengah bross ini terbalik. aku amat nyesel waktu itu… yah penyesalan yang tiada akhir… Karena ku tahu, temen-temenku teramat suka dengan yang namanya kepala gundul plintis. Bukan karena modelnya yang keren, tetapi karena mereka punya mainan baru…. yah kepalaku. Berminggu2 kulewati, dan ku lihat didepan cermin… eh rambutku blm nongol pula. Sudah gitu kakak kelas 6 ku, banyak yg iseng dan nakal, mereka mengejekku, bahkan setiap hari nakut2-in dengan akan memukul kepalaku sampe menyonyo. akhirnya akupun bersembunyi di kelas dan gak pernah berani keluar, … Tentu saja sampai rambutku tumbuh lg.

Begitu kakak kls 6 lulus, akhirnya aku sudah gak ada yg ganggu lg. Rasa percaya dirikupun tumbuh kembali. Dari situ aku sudah mengenal yang namanya belajar dirumah. Setahun kemudian aku berhasil mendapatkan ranking untuk naik ke kelas 5. Mulai saat itulah aku selalu dapat rangking dan sampe akhirnya naik ke kelas 6.

Saat kelas 6, ada perasaan sangat aneh yang aku rasakan. Ya, aku sudah tertarik dengan teman lawan jenis. Aku menyukai temen cewek di kelasku. Namanya siti purwanti <Atek panggilannya>. meskipun gadis desa, tp parasnya bgt cantik, rambutnya tipis dan panjang menggulung, mukannya begitu manis, anggun dan cantik. Sering kami saling bertatapan… dan saling tersenyum tersipu malu… meskipun tidak pernah berani untuk saling mengungkapkan perasaan “luar biasa” yang sedang dirasakan. Yah… cinta monyet x ya… Dan inipun kami pendam hingga pada akhirnya masa2 kelas 6 kami berakhir… ditandai dengan pengumuman ujian kelulusan. Karena kami semua lulus… akhirnya kami sudah tidak pernah bertemu lagi….

Arti sebuah nama

•10 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tahukah kenapa bayi tersebut dinamai puji iswiyanto. Yah begini ceritanya… Ketika bayi tersebut keluar dari perut dan mulai dibersihkan, sang ibu td amat teramat kaget. Bayi tersebut begitu putih… lain dengan ibu yang melahirkannya. Dan setelah ditoleh ke arah bapaknya…. ternyata bapaknya juga hitam lekam. Kemudian ibunya dengan setengah tidak percaya… mulai menggendongnya. Setelah di raba-raba… di usap-usap… dan di endus-endus, … Ehmmm… sang ibu berdehem kegirangan. Ternyata bau badan bayinya hampir sama dengan bau badan ibunya yang sering makan pete. Yah… ini betul-betul anakku. Kemudian bayi tersebut diserahkan kepada bapaknya. Bapaknya pun menggendong-gendong sambil…. Cilubbbb baaa…. ciluuub baaa! teriak bapaknya kegirangan pula. Dan karena kulitnya begitu putih, lembut, dan halus …. maka mereka memberiku nama “Puji”, artinya ciptaan Tuhan kali ini amat terpuji.

Danjuga, sebenarnya ada tujuan lain juga kenapa saya diberi nama “Puji” yang kepanjangannya adalah “pinuju ing Gusti”. yaitu diharapkan si Puji ini selama hidupnya dapat berbuat/melaksanakan  segala sesuatu yang terpuji sehingga dapat mempermudahnya untuk masuk ke dalam Rumah Gusti/Tuhan alias Surga. Begitulah ceritannya…

Bayiku yang mungil…

•10 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kala itu, Sang Surya sedang berteriak memecahkan bumi dari kedinginan pagi hari. Sesosok perempuan desa, terlihat sedang berjalan tergopoh-gopoh menuju sebuah gubuk tua. Perempuan itu, berjalan dengan semakin membungkuk. Kulit arinya terlihat hitam lekam, menandakan sering terbakar oleh teriknya matahari. Pipinya memerah, perutnya amat besar dan bulat,  seperti bulan purnama. Dengan tangan kasarnya, dia mengelus-elus perut nya yang seakan terasa mau meledak, dan kian lama pun kian terasa sangat sakit. Diam-diam seorang lelaki telah membuntuti dari belakang. Akan tetapi, seorang perempuan tadi, tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Yang dia pedulikan hanyalah perutnya yang kian lama kian berat. Sesampai di depan rumah, perempuan tersebut langsung meloncat lari ke arah pintu masuk. Meskipun dengan tersandung-sandung tangga, tetapi dia tetap semakin keras berjuang untuk segera masuk . Sesampai di kamar tamu, tidak dapat menahan rasa sakit. dan perempuan itupun terjatuh di lantai. Dengan menggunakan tangannya yang bergetar, dia berusaha menggapai-gapai sebuah kaki meja untuk menariknya berdiri kembali. Akan tetapi, dia sudah tak kuasa menahan rasa sakit yg amat mendalam di dalam perutnya. Akhirnya perempuan tersebut terkapar lemas di lantai yang dingin bagaikan besi beku.

Tiba-tiba, seorang laki-laki td meloncat dari pintu masuk… gluddukkk…!  Begitu melihat sosok perempuan yang dibuntutinya sudah terkapar di atas lantai, si laki-laki berteriak. Aduhhh… ngopo mbok ne? tanyanya. Si perempuan td hanya bisa menjawab dengan suara rintihan …aduhhhh … tu… lung…tulung aku di unggahke nang amben ! Segera si lelaki td mengangkatnya untuk digotong dan ditidurkan di atas amben kayu besar yang berada di pojokan. Sambil merintih kesakitan…perempuan tadi berbisik. Pak ne… tulung diundangke Siwo… cepet pak ne…. iki wis arep metu. Dalam beberapa detik… lelaki itu pun terhempas keluar …. hendak memanggil siwo yang dipinta perempuan td. Beberapa menit kemudian, balik lah si lelaki td bersama dengan seorang wanita tua. Tanpa basa-basi dulu, si wanita tua td berteriak… tulung jupukno banyu anget karo lap-e, mar … cepet … cepet yo… ! kemudian datanglah sebaskom air hangat lengkap dengan lapnya. Si orang tua td langsung menyambarnya dan mengompreskannya pada si perempuan yang sakit td…  Dengan sambil menekan-nekan di bagian perut yang bengkak td, dia mengatakan… Ayo saiki ngeden… terus… kata orang tua td, kata si wanita tua itu kepada si perempuan.  Aduh… aduhhhh… Gusti Allah, tuluuuungi kulo… aduhhhh…. rintih si perempuan td. Ayo sepisan maneh… ngeden sing kuat… ojo leren…. kata wanita tua td sambil mengurut-urut di bagian perut. Dan begitu si perempuan td berteriak Ahhhhh…. tiba tiba terdengarlah suara bayi yang dengan kuat memecahkan kesunyian di siang bolong…. Yah suara bayi menangis … Oekkk….oekkk… oekkk. Wahhh… bayinya laki-laki..! kata wanita tua itu.

Yah sesosok jabang bayi yang baru keluar dari perut sang ibu. Bayi tersebut kemudian di gendong dan di kompres dengan halusnya. Terlihat kulitnya yang begitu putih, lembut dan bersih, dengan sedikit noda bercak di bagian lengan kirinya. Sambil terus menangis… di selimutilah bayi tersebut dengan sebuah handuk yang halus. Yah…. benar… Bayi itu adalah saya. dan seorang perempuan td adalah ibu yang melahirkan saya. Sedang seorang laki-laki tadi tidak lain adalah bapak saya sendiri. rupanya sepulang dari ladang, ibu saya berasa mau melahirkan … dan ternyata memang benar. Keluarlah seorang bayi yang kemudian diberi nama… puji iswiyanto…

Perjalanan Guru

•18 Mei 2008 • 5 Komentar

Dalam buku The Courage to Teach, Parker Palmer (2003) mengatakan, menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Palmer juga berpendapat, dalam perjalanan profesinya, seorang guru terus mengaitkan tiga hal, yakni diri sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya.

Yang pertama, proses penemuan diri seorang guru dalam perjalanan panggilannya adalah proses penemuan dan pengukuhan identitas serta integritas. Setiap guru seharusnya menggali diri sendiri, menemukan identitasnya sendiri, dan mengembangkan gaya serta metode dan teknik mengajar yang sesuai dengan diri sendiri untuk menyinarkan aura terbaiknya yang bisa menerangi peserta didik.

Penemuan dan kesadaran diri ini akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh, sesuai harkat kemanusiaannya.
Sayang, dalam realitas perjalanan profesi guru, ada banyak hambatan termasuk dari budaya, birokrasi, dan sistem pendidikan itu sendiri yang menghalangi panggilan guru untuk mempertahankan identitas dan integritasnya. Seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan, transformasi nilai-nilai, dan rekonstruksi masyarakat, sebagian guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberi les privat bagi peserta didik, bahkan membocorkan soal- soal ulangannya sendiri, memfasilitasi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional, ikut menjual buku-buku ajar dari penerbit yang memberi komisi memuaskan, atau ikut terlibat sebagai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.

Dua hal berikut yang terkait perjalanan seorang guru adalah anak didik dan mata pelajaran yang diampu. Satu pertanyaan yang bisa diajukan kepada para guru adalah, “Apakah Anda mengajar Bahasa Inggris/Matematika/IPS/IPA atau apakah Anda mengajar anak?”
Jawaban langsung (tanpa refleksi) kebanyakan guru adalah “Saya mengajar keduanya.” Jawaban ini tampak sederhana dan benar. Namun, refleksi lebih dalam atas praksis pengajaran menunjukkan, mengajar keduanya tidak selalu (bisa) dilakukan. Dalam tingkat kebijakan dan praksis pendidikan formal, ada konsensus, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar kecenderungan mengajar bidang disiplin dari peserta didik.

Guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar dianggap lebih generalis dan lebih memahami psikologi anak dibandingkan dengan guru-guru sekolah menengah dan perguruan tinggi yang lebih spesialis.

Identitas dan integritas guru

Dalam praksis pendidikan formal, biasanya guru pada jenjang lebih tinggi mendapat penghargaan, baik materi maupun prestise, lebih tinggi daripada guru TK dan SD. Banyak pengelola sekolah memberi gaji lebih besar kepada guru SMP dan SMA daripada kepada guru TK dan SD. Sikap ini dilandasi asumsi, apa yang diajarkan lebih penting daripada siapa yang diajar. Padahal, pendidikan dasar memberi landasan bukan hanya bagi pembentukan karakter, tetapi juga pengembangan kapasitas intelektual dan keterampilan seorang anak.

Pemilihan mata pelajaran yang diampu, bisa dilakukan sebelum atau dalam masa jabatan, seharusnya dilakukan dalam kesadaran dan keterkaitan dengan identitas dan integritas setiap guru.
Dalam menjalankan profesinya, ada proses penyatuan diri dengan bidang yang diampu. The messenger is the message. Salah satu indikator proses penyatuan diri dengan bidang ini adalah kecintaan terhadap apa yang diajarkan, termasuk kaidah-kaidah dalam disiplin ilmu. Juga keyakinan, apa yang diajarkan akan membawa perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik sebagaimana pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang terkandung dalam bidang yang diampu membawa kebaikan bagi sang guru.

Selanjutnya, untuk mengajar keduanya, mata pelajaran dan peserta didik, seorang guru tidak berhenti hanya pada peran sebagai the messenger who delivers the message. Identitas dan integritas seorang guru memungkinkan untuk menyapa tiap pribadi peserta didik, menyentuh hati, dan membebaskan untuk menemukan guru dari dalam diri sendiri.

Parker Palmer menyebut the teacher within. Implikasi pemahaman ini adalah seorang guru sejati dipanggil untuk membebaskan peserta didik bukan hanya dari ketidaktahuan, tetapi juga membebaskan peserta didik dari ketergantungan kepada guru. Seorang guru dipanggil untuk membebaskan peserta didik dari ketidaksadaran bahwa sebenarnya peserta didik mempunyai guru sendiri, yakni yang ada di dalam diri sendiri, yang terus membimbing dan memimpin sepanjang hayat.